Penulis: Sulaiman Mappiasse

Semenjak saya menjadi staf pengajar di STAIN Manado, sekarang IAIN Manado, keruwetan pengaturan jadwal kelas selalu terjadi. Seiring dengan semakin bertambahnya jumlah mahasiswa dan rungan kelas, fenomena ini semakin parah.

“Pak, saya mau bertemu dengan Bapak?” Suara seorang mahasiswa di jaringan celluler. “Iya, ada yang bisa saya bantu?,” jawab saya. “Gini Pak, saya punya informasi jadwal untuk kelas … Program Studi …,” jawab mahasiswa. “Lalu?,” jawab saya. “Iya Pak, jadwal dan dosennya ada, tetapi informasi ruang kelasnya tidak ada. Gimana ini Pak?,” kata mahasiswa dengan suara cemas. “Oh, kalau begitu silahkan bertemu dengan Ketua Prodinya,” Jawab saya. “Oh saya kira Bapak yang Ketua Prodinya.” Kata mahasiswa. “Bukan, Ketua Prodinya ….”, jawab saya menutup pembicaraan.

Menutup telpon, dalam hati, “Wah parah banget ya kalau saya yang Ketua Prodinya.”

Berdiri di depan kelas mengajar mata kuliah Ilmu Kalam, “Pak, kami mahasiswa dari Prodi. … Sekarang ini 9.30, jadwal Bapak di kelas …”. Suara Komsat mahasiswa di jaringan celluler. “Oh, ya? Sekarang ini saya sedang mengajar di kelas dengan jam yang sama … Tunggu ya, sabar ya saya akan ke sana”, jawab saya.

Di depan mahasiswa, saya bercanda, “Hebat sekali ini Pak Sulaima, bisa ada di tempat yang berbeda pada saat yang bersamaan.”

Di lapangan sering saya dengar keluhan dari pihak kampus, “mahasiswa banyak, ruang kelas perkulihan tidak cukup”.

Di sisi lain saya sering dengar, “IAIN Manado masih perlu mahasiswa lebih banyak. Kita rendah sekali angka pendaftarannya dibandingkan IAIN lain.” Bahkan ada yang berujar, “Kita ini, ukurannya STAIN, tetapi statusnya IAIN.”

Untuk pernyataan kedua, bisa jadi benar. Kita memang kekurangan mahasiswa. Buktinya, semua yang mendaftar diterima. Proses seleksi hanya formalitas saja.

Tetapi pernyataan pertama, saya tidak percaya bahwa ruang perkuliahan di IAIN Manado tidak cukup sehingga sulit untuk diatur. Buktinya, sepanjang karir saya di STAIN/IAIN Manado, saya belum pernah melihat di saat yang bersamaan, semua ruang perkuliahan terisi semua. Artinya, kita masih punya ruang perkulihaan yang tidak termanfaatkan.

Yang perlu diingat, bicara soal ruang kelas, kita tidak hanya bicara soal tempat, tetapi juga bicara soal waktu.

Karena itu, untuk mengefektifkan penggunaan ruangan kelas di IAIN Manado, pihak kampus harus mengontrol tempat dan waktu di saat yang bersamaan. Apabila kita hanya mengontrol tempat, maka akan banyak ruangan yang seharusnya dimanfaatkan, tetapi tidak digunakan karena secara tempat ada yang menguasainya. Namun demikian, secara waktu, orang yang menguasai ruang itu tidak menggunakannya.

Caranya bagaimana? Beberapa saat lalu, saya menggaungkan penggunaan Google Calendar. Sayang sekali, semangat dan komitmen pihak kampus untuk melakukan perubahan budaya kontrol waktu dan tempat lewat Google Calender sekarang ini sudah mati.

Google Calender seakan-akan menjadi proyek pribadi saya. Padahal, saya mengusung ide Google Calender untuk menyelesaikan problem amburadul managemen ruang dan waktu di IAIN Manado.

Di mana-mana kita melihat, hanya orang atau bangsa yang memiliki managemen tempat dan waktu yang baik yang dapat berhasil mengukir prestasi.

IAIN Manado, berpikirlah …

Email penulis: sulaiman dot mappiasse at iain-manado.ac.id

%d bloggers like this: