Penulis: Ardianto Tola

Secara umum literasi kerap dimaknai sebagai melek huruf alias bebas dari buta huruf. Ini pemaknaan bahasawi secara lugas dan tersurat (in the line). Secara filosofis, literasi bermakna paham dan sadar akan sesuatu berdasarkan baca-tulis sehingga literasi merupakan sebentuk kepahaman dan kesadaran akan sesuatu (informasi, media, budaya, dan sebagainya) yang beralaskan bacaan-tulisan atau perkembangan lanjutannya (misalnya, dunia digital). Oleh sebab itu, literasi berpangkal pada kepahaman dan kesadaran manusia terhadap sesuatu, bisa informasi tertentu sehingga manusia bisa menjalani kehidupan yang baik-etis dan menjaga keindahan kehidupan dengan selamat. Agar kehidupan kita berjalan dengan baik dan terawat secara berkelanjutan, kita perlu menumbuhkembangkan kemampuan literasi, menumbuhsuburkan kepahaman dan kesadaran diri. Dengan begitu, kita menjadi manusia paham dan manusia sadar, bukan manusia gagal paham dan manusia alpa-lupa. Dan, inilah sebenar-benarnya manusia mulia sebagaimana diamanahkan kitab suci. Bukankah setiap kitab suci berpangkal literasi? Kitab suci bermula dari sabda, kata, kemudian baca.

Dengan literasi, kita terbebas dari kebutaan atas huruf-huruf yang berhamburan saban hari. Biar kita tidak sembarangan dan sembrono mengalirkan informasi, yang datang dan pergi seperti tsunami yang tidak terpahami, yang mencipta kekeruhan dan keributan kehidupan di bumi. Biar kita tidak gampangan dan entengan menyebarkan tulisan yang terkirim bertubi-tubi, yang serba palsu-imitasi atau benar-sejati, yang bisa mendatangkan kebingungan dan keremangan di tiap sanubari.

Literasi dapat memelekkan  kita terhadap jalinan aksara-aksara yang bertebaran di sana-sini. Ia memampukan kita melihat keaslian atau kepalsuan tulisan yang menyerbu tak henti, yang bisa menghadirkan ketakpastian kehidupan bersama di bumi, yang bisa menjadikan hidup dipenuhi kegalauan. Dengan literasi kita bisa menghikmati kebenaran atau kelancungan yang tersembunyi dalam tulisan yang berserakan mengitari kita.

Literasi memahamkan dan menyadarkan kita terhadap isi barisan huruf-huruf yang berderap menyerbu tak henti di sepanjang hari. Dan, literasi menyanggupkan kita mengerti maksud dan makna tulisan yang bergemuruh tak pernah sepi, yang acap membuat berisik kehidupan indah di bumi. Literasi mengantarkan kita menjadi manusia yang bisa membijaki faedah dan mudharat tulisan. Sayangnya, secara kultural masyarakat kita belum mempunyai budaya literasi yang tinggi.

Sadar akan pentingnya literasi bagi manusia di jagad raya ini-pangkal eksistensi setiap insani, sehingga dicanangkanlah Hari Literasi Internasional (8 September). Di Indonesia, sejak 2015 dicanangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Mari kita berliterasi. Yang akademisi berliterasi ilmiah. Semua yang beriman berliterasi spiritual. Yang di kampus berliterasi kampus yaitu gerakan literasi di lingkungan kampus untuk mencapai atau mewujudkan kepentingan atau tujuan kampus…dan seterusnya.

Semoga Allah azza wa jala al-karim, Allah yang Mahaliterasi, meliterasikan kita. Biar kita semua terbebas dari tempurung keterbelakangan dan kekufuran kehidupan ini. Biar kita bisa bertadabur dan bertafakur dengan sepenuh hati, dengan bahasa bernas dalam menjangkau dasar terdalam ruhani. Biar semua manusia mampu mengusahakan kemuliaan diri, seperti terjanji dalam aksara-aksara kitab suci. Biar kelancungan bisa tercegah dan paras baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur tergelar di bumi.

Penulis dapat dihubungi di email ardianto@iain-manado.ac.id

%d bloggers like this: