Penulis: Djunaidi Lababa

Aesop merupakan salah satu tokoh yang diperkirakan lahir di Asia, dan menjadi salah satu budak dari orang Yunani. Aesop tidak seperti Aristoteles, Socrates atau Plato, dia mengajarkan kebijaksanaan dengan menggunakan cara yang berbeda. Beliau terkenal karena karangan-karangannya tentang fabel, yaitu cerita yang menggambarkan perilaku manusia yang diibaratkan dengan hewan dan diceritakan mampu berbicara dan bertidak seperti halnya manusia. Salah satu kisah yang diceritakan Aesop adalah tentang rubah dan anggur.

Alkisah seekor rubah yang kelaparan berjalan-jalan di hutan. Dia pun bertemu dengan pohon anggur dengan buah bergelantungan dan siap dipetik. Akan tetap, buah anggur itu tergantung pada dahan yang agak tinggi. Untuk mencapainya, sang rubah berusaha melomcat.

Percobaan pertama, dia tidak mampu menggapainya. Selanjutnya sang rubah mengambil ancang-ancang dan kembali melomcat dengan loncatan lebih tinggi. Kali ini pun rubah itu belum mampu memetik anggur tersebut.

Setelah beberapa kali melakukan percobaan dan selalu gagal, akhirnya rubah tersebut terduduk lesu, memandang anggur yang sudah ranum sambil berkata, “ Anggur-anggur itu masih masam dan tidak enak untuk dimakan”.

Sang rubah pun berlalu pergi dengan perasaan sangat kesal.

Dalam kisah ini, Aesop seolah ingin menggambarkan kepada kita bahwa tidak seharusnya kita menyalahkan keadaan dan lingkungan sekitar karena ketidaksanggupan kita memahami persoalan yang ada. Masalah sebenarnya ada pada diri sang rubah yang tidak menemukan cara memetik buah anggur tersebut, dan bukan pada rasa buah yang masam sehingga tidak enak untuk dimakan.

Kisah tersebut juga memberikan hikmah, sebaiknya kita tidak berkomentar terhadap hal-hal yang tidak kita ketahui secara utuh. Sebagaimana sang rubah, karena dia tidak mampu memetik anggur kemudian menvonis rasa anggur menjadi tidak enak.

Tidak perlu menunjuk dengan mengarahkan telunjuk kepada orang lain, karena sejatinya, kita sebenarnya sedang malu dan menyembunyikan keempat jari lainnya untuk diarahkan pada diri kita sendiri.

Mungkin lebih baik kita berpelukan sehingga jari telunjuk tersebut tidak akan mengarah kemana-mana. Dia akan merapat dengan jari lainnya, menyambung dan menjadi satu-kesatuan.

Jangan sampai kita tidak pernah makan anggur lagi seperti rubah.

Penulis dapat dikontak melalui email djunadi.lababa@iain-manado.ac.id

%d bloggers like this: