Penulis: Sulaiman Mappiasse

Masyarakat Sulawesi Utara, khususnya kota Manado, dikenal sebagai masyarakat multi ras, etnis, agama, dan budaya. Kondisi alami ini melahirkan keragaman ekonomi, politik, cita rasa dan pengalaman.

Berangkat dari kesadaran ekologis ini, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado berusaha menemukan relevansi lokalitasnya dalam rangka menemukan makna terdalam dan nilai tertinggi keberadaannya.

Kesadaran ekologis dan komunikasi dialogis antar berbagai pihak, khususnya civitas akademika IAIN Manado, melahirkan paradigma reformasi pendidikan baru bagi IAIN Manado. Ini yang disebut dengan multikulturalisme.

Kata multikultural dapat dimaknai pada tiga level, yakni realitas, teori analisis,  dan sikap-harapan.

Pada tataran realitas, multikulturalitas adalah hukum alam yang telah ditetapkan Sang Pencipta. Keragaman merupakan realitas kehidupan yang tak terelakkan. Keragaman adalah ciptaan Tuhan yang mendatangkan energi dahsyat bagi kehidupan semesta. Keragaman adalah bentuk tertinggi dari keindahan yang memicu gerak perubahan bagi alam semesta. Keragaman adalah wujud kekuasaan Tuhan yang maha.

Multikulturalitas sebagai bentuk keragaman merupakan esensi kehidupan yang sering mendapatkan tantangan dan perlawanan dari kalangan yang tidak memahami esensi kehidupan. Mereka memaksakan keseragaman dan hanya mengenal keadaan dan keberadaan “saya” dan “kami”. Mereka tidak menerima keberadaan “yang lain” yang ada untuk mengada.

Intensitas mobilitas dan interaksi manusia akhir-akhir ini, tidak terkecuali di Sulawesi Utara, menciptakan pola dan peta sosial baru. Banyak masyarakat yang terbiasa dengan keseragaman lambat laun dipaksa menerima keragaman. Di sisi lain, banyak masyarakat yang terbiasa dengan keragaman tergoda untuk memaksakaan keseragaman.

Generasi sebelum kita memiliki peta mental yang cenderung homogen tentang Sulawesi Utara, misalnya. Arus imigrasi dan emigrasi dari dan ke Sulawesi Utara menjadikan Sulawesi Utara semakin ragam dalam berbagai aspek. Homogenitas yang semakin kompleks ini memerlukan keterampilan individual dan kolektif baru anggota masyarakat.

Fenomena baru ini bagi sebagian orang dipahami sebagai kesempatan, dan sebagian lagi sebagai hambatan dan ancaman.

Guna memahami dan mengalami fenomena seperti ini secara produktif, paradigma sosial dan intelektual berbasis multikultural semakin diperlukan. Dengan wawasan multikultural, keragaman akan dimaknai sebagai kesempatan yang baik untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai demokratis secara alamiah.

Dengan nilai tersebut, semua anggota masyarakat seyogyanya dipandang sebagai warga sejawat yang mimiliki hak dan kewajiban sama dalam mewujudkan cita-cita dan impian hidup.

Pada tataran teori, multikulturalisme dipahami sebagai pisau atau instrumen analisis yang dapat membantu kita memahami, menguraikan,  dan menjelaskan kompleksitas sosial yang ada di sekeliling kita.

Dalam kerangka ini,  masyarakat tidak lagi dapat dipahami dengan perspektif unidimensional yang dominatif . Masyarakat hanya dapat dipahami dan dijelaskan dalam perspektif plural di mana masyarakat dan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya dimaknai sebagai karya bersama.

Pada tataran sikap-harapan, multikulturalisme mengidealkan sebuah masyarakat di mana perbedaan dan keragaman tidak dikelola secara sektarian dan diskriminatif di mana kelompok mayoritas cenderung memaksakan keseragaman atau kepentingan.

Sebaliknya, kelompok minoritas tidak memanfaatkan keminoritasannya untuk melakukan hal yang sama.

Semua mendapatkan apa yang mereka dapatkan karena mereka adalah warga sejawat yang berkewajiban atau berhak atas itu, bukan karena mereka mayoritas atau minoritas.

Kesempatan menerima hak dan menjalankan kewajiban terbuka untuk semua.

Pendek kata, dikotomi mayoritas dan minoritas sejatinya tidak ada dalam masyarakat yang menganut prinsip multikultural.

Masyarakat multikultural adalah masyarakat di mana eksistensi dikotomis “lawan” dan “kawan” tidak mengada. Yang ada dalam masyarakat multikultural adalah kegembiraan dan keriangan bersama.

Masyarakat seperti itu sejatinya menjadi mimpi yang diperjuangkan dalam komunitas IAIN Manado. (bersambung)

Email: sulaiman.mappiasse at iain-manado.ac.id

%d bloggers like this: