​Penulis: Sulaiman Mappiasse

Sebelumnya telah ditegaskan bahwa multikulturalitas meniscayakan penguatan identitas, baik secara logis maupun empiris. 

Pertanyaannya, apakah IAIN Manado telah memiliki identitas ke-IAIN-an yang hadir secara nyata dalam kehidupan sosial?

Identitas seyogyanya merepresentasikan karakter yang baik dan kuat sehingga ia menciptakan dampak psikologis signifikan dalam skema mental orang-orang yang melihat dan merasakannya.

Lalu, identitas dan karakter ke-IAIN-an yang bagaimana yang dapat melahirkan dampak seperti itu? 

Jawaban atas pertanyaan ini membutuhkan landasan empiris. Sebuah identitas dan karakter yang dibutuhkan masyarakat Islam,  dan yang ditopang dengan energi eksistesi historis ke-IAIN-an itu sendiri. 

Tantangannya,  IAIN dan perguruan tinggi Islam secara umum akhir-akhir ini menerima mandat baru yang melampaui skop keluasan dan kedalaman mandat historisnya sebagai lembaga pendidikan Islam. 

Mandat ini biasa dibahasakan dengan ungkapan bahwa IAIN bukan hanya lembaga pengkaderan alim ulama ilmu-ilmu agama tetapi juga alim ulama ilmu-ilmu umum.  Atau IAIN bukan hanya melahirkan ustazd dan kyai tetapi juga pemikir.

Lebih dari itu,  IAIN harus mampu bersaing dengan perguruan tinggi lain dalam menghasilkan alumni dalam kerangka standardisasi akreditasi nasional, regional dan internasional. 

Tuntutan mandat yang terakhir ini banyak memunculkan orientasi baru dalam dunia perguruan tinggi Islam. Orientasi ini terkadang mengesankan kegersangan, absurditas dan nihilitas eksistensi ke-IAIN-an. 

Lalu bagaimana IAIN Manado dapat membangun identitas dan karakter yang kuat dalam kondisi seperti ini? 

(Bersambung) 

%d bloggers like this: