Penulis: Sulaiman Mappiasse

Apa yang membedakan civitas akademika dan alumni IAIN Manado dari mereka dari perguruan tinggi lain yang ada di Sulawesi Utara khususnya, dan di Indonesia umumnya? 

Idealnya, civitas akademika dan alumni IAIN Manado memiliki posisi dan peran kepemimpinan keumatan dalam masyarakat. Faktanya, mereka telah menanggalkan atau ditinggalkan oleh posisi dan peran utama ini.

Kita, IAIN Manado, tidak lagi dapat menjalankan fungsi kepemimpinan agama. Posisi itu telah diambil alih oleh orang lain. Kita tidak lagi menjadi imam. Kita telah menjadi ma’mum dalam fungsi itu.

Mengapa? Karena kita dan alumni tidak secara sistematis dan strategis dipersiapkan memiliki kepedulian, kapasitas keilmuan dan karakter yang membuat kita mencintai dan bangga menjadi pemimpin umat dalam segala kondisi dan situasi.

Akhirnya, kondisi ini membuat kita kehilangan karakter dan identitas. 

Sebagaimana telah dijelaskan dalam tulisan terdahulu bahwa karakter dan identitas adalah syarat mutlak terwujudnya visi Multikultural-Transdidipliner IAIN Manado. 

Karena itu, kita perlu menata diri kembali untuk mengambil alih fungsi itu dengan penuh percaya diri dengan cara melakukan program kaderisasi mahasiswa. 

Character Building ala IAIN Manado

IAIN Manado perlu secara sistematis dan strategis melakukan kaderisasi mahasiswa,  khususnya mahasiswa baru,  selama satu tahun penuh. Program ini bertujuan menanamkan keyakinan dan kepercayaan diri yang super tinggi dalam pikiran dan perasaan mereka bahwa MEREKA ADALAH PEMIMPIN UMAT. MEREKA ADALAH IMAM, BUKAN MAKMUM.

Program ini dapat kita terjemahkan dalam bentuk program Character Building yang dilaksanakan secara institutional setiap hari Senin sampai dengan hari Jumat. Apabila mahasiswa baru diwajibkan mengikuti program ini. Maka dalam empat tahun, IAIN Manado akan memiliki empat angkatan yang memiliki karakter keilmuan dan budaya Ke-IAIN-an yang kuat. 

Empat angkatan ini akan mewujudkan IAIN Manado baru. 

Kegiatannya dapat dilakukan dengan sistem per satu jaman sesudah shalat Dhuhur dan Ashar. Kurikulumnya didesain untuk melahirkan pemimpin umat ala IAIN Manado. 

Selama satu tahun penuh, lewat program ini, mahasiswa mendalami kurikulum berikut: Mahasiswa IAIN Manado Pemimpin Umat, Adab Pelajar Muslim/Muslimah, Akidah Kita, Bersama Allah SWT. dan Rasulullah, Bersama Al-Qur’an, Fiqhi Ibadah 4 Mazhab, Muslim/Muslimah Muda Sang Orator dan Negotiator, Fashion untuk Muslim/Muslimah Muda (Tetap Gagah dan Cantik dalam Kesederhanaan), Hidup Sehat, Bersih dan Bersahabat, Sebulan bersama Umat (Program di Bulan Ramadhan), International Days (Senin dan Kamis, BAHASA ARAB DAN INGGRIS DALAM INTERAKSI KOMUNITAS KAMPUS IAIN MANADO). 

Setelah mengikuti program ini di tahun pertama, seluruh mahasiswa baru IAIN Manado telah berhasil merebut kembali identitasnya dengan bekal ilmu dan karakter kepemimpinan ala IAIN Manado. Pada tiga tahun berikut,  mereka memanfaatkan waktu memantapkan ilmu dan keterampilan lanjutan sebagai nilai tambah. 

Nilai pokok Ke-IAIN-an mereka telah matankan di tahun pertama mereka. 

Pada saat mereka menyelesaikan studi, mereka telah menjadi manusia baru yang memiliki karakter, identitas, ilmu, dan keterampilan hidup yang mapan. 

Ekonomi Ke-IAIN-an dan Keumatan

Di sisi lain, secara ekonomi, mahasiswa dan alumni IAIN Manado masih sering diidentikkan dengan kumpulan orang-orang yang terpaksa jadi mahasiswa. Mereka masuk IAIN Manado karena tidak ada lagi kampus lain yang mau menerimanya. 

Setelah diwisuda,  mereka menjadi pengangguran.

Saat mereka menjadi pengangguran,  orang-orang tidak bertanya-tanya mengapa karena mereka sudah tahu bahwa IAIN Manado memang kampus yang hanya melahirkan para calon pengangguran. 

Tentu tidak semua seperti itu. Faktanya, ada juga yang menorehkan kesuksesan yang sangat membanggakan. Tetapi, apakah prestasi ini karena IAIN Manado yang telah mengubah hidup mereka atau mereka bisa seperti itu karena kreativitasnya sendiri masih sebuah pertanyaan.

Fakta bahwa mahasiswa kita sebagian besar merupakan orang-orang yang ditolak di kampus-kampus lain tidak boleh menyurutkan apalagi mematikan niat dan tekad kita menjadi civitas akademika yang dihargai dan disegani. 

Makna utama pendidikan adalah mencerdaskan dan membuat manusia bertabat. Dalam konteks prinsip nilai dan politik pendidikan  ini, adalah kemuliaan bagi IAIN Manado memiliki input yang tidak secemerlan input kampus-kampus lain.

Apabila di kampus lain yang memiliki input mahasiswa yang lebih baik butuh satu strategi mencerdaskan mahasiswanya, maka IAIN Manado butuh sepuluh strategi. 

Dengan kata lain, seluruh pendidik dan tenaga kependidikan di IAIN Manado harus lebih kreatif dari rekan-rekan mereka di kampus lain. Mereka memiliki beban dan tantangan yang lebih berat dalam usaha mencerdaskan mahasiswa. 

Mendapatkan tenaga pendidik seperti itu tentu harus dilakukan lewat program rekrutmen yang visioner. 

Mencermati kembali kondisi alumni kita, banyak di antara mereka terpaksa bekerja di sektor yang tidak memberikan citra yang membanggakan sebagai alumni IAIN Manado. Mengapa? Karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengamalkan prinsip-prinsip dasar ekonomi Islam.

Prinsip ekonomi Islam yang paling mendasar adalah prinsip saling tolong menolong dalam kebaikan. Melalui proses tolong menolong ini, ekonomi umat akan terbentuk lewat kerjasama ekonomi keumatan.

Apabila setiap mahasiswa IAIN Manado dapat menabung seribu rupiah per hari secara bersama-sama, maka pada saat mereka menamatkan kuliahnya di IAIN Manado, setiap alumni sudah punya usaha besar yang dikelola secara bersama-sama.

Dalam satu tahun, setiap mahasiswa akan memiliki tabungan kurang lebih Rp 365.000. Dalam empat tahun, Rp 365.000×4=Rp 1,460,000. Kalau ada 700 orang mahasiswa baru misalnya, sejak mereka masuk IAIN Manado, diwajibkan menabung seribu rupiah per hari, maka dalam 4 tahun mereka akan memiliki tabungan bersama sebesar Rp 1,460.000 x 700 = Rp 1,022,000,000. Dalam empat angkatan saja, alumni kita sudah punya modal usaha bersama sebesar 4 miliar.

Uang ini disimpan dalam sebuah rekening bersama di Bank Berbasis Syariah. Hanya melalui persetujuan manajemen pengelola yang terdiri dari beberapa orang, uang dapat dikeluarkan dari rekening. Pihak IAIN Manado dapat terlibat sebagai pengawas. 

Uang sebesar itu bukan uang sedikit apabila diinvestasikan dalam berbagai usaha. 

Artinya, saat mereka selesai kuliah, mereka sudah memiliki modal usaha bersama yang dikelola bersama. Apabila mereka tidak sanggup mengelola investasinya sendiri, mereka dapat menyepakati untuk menitipkannya ke lembaga pengelola investasi keuangan. Keuntungan hasil investasi dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan sesuai kesepakatan penabung, dalam hal ini alumi sebagai pemegang saham.

Usaha ini mereka akan kelola secara bersama secara profesional. IAIN Manado sebagai almamater dapat berfungsi sebagai fasilitator secara kelembagaan.

Kegiatan ekonomi ini dapat dikelola dalam bentuk koperasi bersama yang bergerak dalam usaha investasi, bukan usaha simpan pinjam.

Akan lebih baik lagi, apabila visi penguatan kapasitas ekonom IAIN Manado dapat disinergikan dengan badan usaha ini. Misalnya, IAIN Manado sebagai lembaga pendidikan menginvestasikan hasil usahanya lewat badan usaha Ke-IAIN-an ini. Unit-unit usaha IAIN Manado dapat kita perlakukan laksana orang yang ikut berinvestasi dalam badan usaha bersama ini. 

Program seperti ini jika dirancang secara strategis, maka ia akan menguatkan identitas dan karakter ke-IAIN-an.  Ia secara simultan memadukan antara aspek keilmuan, karakter, dan ekonomi ke-IAIN-an dan keumatan. 

(bersambung…) 

Penulis dapat dihubungi di sulaiman.mappiasse@iain-manado.ac.id 

%d bloggers like this: