Visi Multikultural telah menjadi pilihan bagi IAIN Manado. Namun demikian, pilihan ini menghadapi berbagai tantangan dan masalah di tingkat praksis.

Pertama, secara etimologi dan epistemologi konsep ini memiliki latar belakang historis sosiologis Barat, khususnya Amerika Serikat. Sehingga tidak heran, Dr. Nasruddin Yusuf, M.Ag, dalam sebuah obrolan santai dengan beberapa kawan dosen, pernah mempertanyakan relevansi visi ini dengan IAIN Manado sebagai institusi pendidikan Islam.

Beliau menantang kita, coba sebutkan satu ayat atau hadis yang secara eksplisit merepresentasikan konsep multikultural. Bahkan secara bahasa, kata yang paling mendekati kata multikultural hanya kata at-ta’ddudiyah, kata beliau. Tapi, kata at-ta’ddudiyah pun lebih dekat dengan makna poligami dalam khasanah turas Islam.

Kedua, sebagai konsekuensinya, lahir persoalan lain, yaitu konsep dan ide multikultural IAIN Manado acapkali direduksi ke dalam imajinasi Barat liberal. Sikap multikultural, misalnya, diterjemahkan ke dalam kegiatan ibadah bersama di salah satu rumah ibadah orang beda agama atau serimonialisasi simbol-simbol agama seperti jilbab oleh umat beragama yang berbeda. Semua itu dilakukan dengan dalih “perwujudan atau aktualisasi nilai multikultural”.

Dalam essei saya sebelumnya saya sudah cukup menguraikan secara filosofis makna multikulturalisme yang perlu dikembangkan di IAIN Manado.

Saya sadar sepenuhnya bahwa pemaknaan terhadap konsep dan ide multukultural tidak dapat dilepaskan dari kepentingan politik orang yang mendefinisikannya.

Akan tetapi, adalah penting untuk dicatat bahwa meskipun ini bersifat politis, pemahaman dan definisi kita sebaiknya selalu dilandaskan pada prinsip ontologis yang logis dan konsisten dengan prinsip dasar Islam, yaitu mengakar kuat ke bawah dan berdiri kokoh ke atas.

HYBRID: MULTIKULTURAL-ULURRAHMAH

Menjaga keseimbangan antara prinsip ontologis universal humanis dan prinsip teologis normatif, dengan demikian, adalah jalan terbaik untuk menerjemahkan visi multikultural IAIN Manado.

Apabila visi multikultural, yang sejarah kelahirannya asing dari literatur Islam itu, adalah sebuah ide dan konsep yang perlu diterjemahkan ke dalam dunia praksis akademik dan sosial civitas akademika IAIN Manado, sebuah institusi yang mengembang visi keislaman, maka ide dan konsep apa dari dalam literatur Islam yang dapat mendampinginya sehingga visi ini dapat dibumikan dalam komunitas IAIN Manado?

Frase Ulurrahmah yang artinya orang-orang yang memiliki akhlak cinta dan kasih kepada makhluk Allah SWT.

Kata Ulurrahmah memang tidak disebutkan secara literal dalam Alquran maupun hadis-hadis Nabi SAW sebagaimana halnya dengan frase ulilalbaab atau ulilabshaar . Akan tetapi, secara makna pesan sayang dan kasih sangat kuat dalam mengungkapkan misi kerasulan SAW yang diungkapkan dengan frase rahmatan-lil-‘alamiin.

Dengan menyandingkan visi multikultural dengan sebuah ide dan konsep yang merefleksikan peta jalan praktis yang ingin dituju IAIN Manado – yaitu melahirkan generasi dan komunitas yang mengedepankan nilai cinta dan kasih kepada semua makhluk Allah SWT. dalam segala aktivitasnya – maka kita akan mampu menerjemahkan visi ini dalam urat nadi kehidupan civitas akademika IAIN Manado dengan kejelasan makna dalam pikiran kita.

Sebagai contoh. Lingkungan yang sehat dan bersih adalah salah satu cara untuk mengungkapkan nilai sayang dan kasih kita kepada sesama makhluk Allah SWT. Apalah arti salam yang selalu kita tebar kepada siapa saja yang datang berkunjung ke kampus kita, apabila tempat di mana kita mengucapkan doa keselamatan itu dalam kondisi kotor dan jelek?

Visi multikultural-ulurrahmah dapat kita jadikan sebagai guideline dalam menetapkan kebijakan apa pun di IAIN Manado dari hilir ke hulu.

SIMBOL LEBAH

Dalam menyampaikan visi dan pesan, simbol adalah sangat penting dan powerful.

Lalu dengan simbol apa kita sebagai institusi pendidikan Islam dapat secara relevan menyampaikan pesan multikultural-ulurrahmah ini?

Tentu simbol itu akan semakin bermakna apabila ia memiliki hubungan erat dengan Islam itu sendiri sebagai way of life.

Rasulullah SAW pernah membuat perumpamaan bagi personalitas diri seorang mukmin dengan lebah. Lebah dijadikan sebagai perumpamaan atau tasybiih bagi seorang mukmin. Lalu apa illat tasybiihnya atau sifat yang menyamakan antara seorang mukmin dan seekor lebah?

Lebah adalah makhluk Allah SWT yang tidak berkarya kecuali memproduksi benda-benda yang bermanfaat. Dia tidak pernah melakukan kerusakan di mana pun dia berada. Dia bekerja siang dan malam untuk meneruskan siklus kehidupan di atas permukaan bumi ini dengan cara mengawinkan berbagai jenis tumbuhan yang dibutuhkan buahnya oleh penduduk dunia. Dia tidak pernah marah, kecuali apabila sarangnya diganggu.

Sifat selalu ingin memberi adalah buah dari nilai sayang dan kasih. Sifat selalu gigih mempertahankan hak adalah buah dari nilai harga diri atas dasar sebuah prinsip kebenaran. (Besambung)

Penulis: Sulaiman Mappiasse
Situs: www.sulaiman.mappiasse@iain-manado.ac.id

*** Pengumuman Penjaringan Bakal Calon Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado Periode 2019-2023 ***
%d bloggers like this: