Banyak di antara kritikus peradaban modern, seperti Wallerstein dan David Harvey, yang mengutarakan bahwa kematangan pembangunan ala kapitalis selalu membawa dua kerusakan dalam dua dimensi, yaitu dimensi lingkungan dan dimensi budaya.

Semakin besar volume dan skop proyeknya, makin dalam dan luas pula dampaknya terhadap kehidupan manusia pada dua dimensi tersebut.

Dari dimensi lingkungan hidup, ini tidak sulit dibuktikan.

Lihatlah mega proyek pertambangan, perumahan, dan transportasi yang terjadi di sekeliling kita. Dampak kerusakan lingkungan yang diakibatkannya terlihat sangat nyata.

Tetapi kerusakan itu sering tidak mengusik batin dan pikiran kita sebab para pelaku kerusakan selalu melakukan itu semua atas nama kenyamanan, kesejahteraan dan kemajuan umat manusia.

Dari dimensi budaya, pembangunan ala kapitalis sering mengukur kemajuan berdasarkan tingkat belanja masyarakat.

Kampanye belanja ini lalu diperkuat dengan doktrin atau dogma kompetisi. Yang terbaik adalah yang paling banyak belanja. Yang terbaik adalah yang paling banyak mainan.

Persaingan dikampanyekan tidak hanya sebatas berapa banyak, tetapi yang lebih penting lagi spesifikasi barang dan mainan yang Anda punyai.

Setiap interaksi sosial yang dibangun di atas paradigma persaingan akan melahirkan dua kubu, yaitu the winner dan the looser alias pecundang.

The winner adalah mereka yang menguasai atau memiliki barang atau benda dengan spesifikasi yang memiliki prestise atau bermerek (branded). Sementara the looser sebaliknya.

Barang dan benda yang dimiliki itulah yang menjadi identitas dirinya.

Prestasi riil dan hakiki tidak lagi penting. Yang terpenting adalah apa yang Anda pakai dan pertontonkan.

Hasrat dan nafsu untuk tampil di depan publik dengan segala kemewahan ini merupakan anugerah bagi para produser barang, makanan dan jasa yang berkelas dengan harga sangat tinggi.

The looser tentu berpikir bagaimana caranya, dengan modal duit dan budaya yang sangat terbatas, saya juga bisa tampil seperti the winner.

Mereka mempelajari kebiasaan dan cita rasa atau selera (habitus) the winner.

Hasrat ini terbaca oleh pasar. Maka lahirlah produk-produk, baik jasa maupun barang, imitasi.

Penampakannya mahal dan bermerek, tetapi sebenarnya tiruan.

Ternyata fenomena nihilisme dan hedonisme budaya ini sudah menjalar jauh ke dalam dunia akademik.

Aktivitas akademik yang sakral dan mulia karena ada wibawah keseriusan, kesungguhan, kejujuran dan kebenaran di dalamnya menjadi rusak.

Bangsa bangsa atau dunia internasional berlomba-lomba melahirkan professor atas nama daya saing bangsa.

Akademisi dihargai atau dihinakan berdasarkan jumlah tulisan yang terbit setiap tahun. Bagaimana karya itu ditulis dan dikerjakan, bahkan siapa yang mengerjakannya tidak terlalu menjadi soal.

Lahirlah professor-professor yang sulit dipercaya dalam kacamata akademik bahwa mereka benar-benar professor, layaknya barang imitasi.

Jurnal akademik yang merupakan media unjuk kepakaran para akademisi pun dikomodifikasi dan dikompetisikan lewat sistem akreditasi atau standardisasi.

Di antara jurnal ini, layaknya barang, ada yang bermerek sehingga nilai jual dan prestisenya sangat tinggi.

Input tulisan mereka diseleksi ketat, layaknya bahan mentah barang- barang bermerek kualitas impor; dibuat dengan material sangat tinggi oleh para tenaga ahli yang sangat terampil.

Suasana kompetisi akademik ini melahirkan the winner dan the looser.

Uniknya, the looser tahu spesifikasi barang yang dimiliki oleh the winner karena mereka melihatnya dari tabel standar.

Sayangnya, mereka tidak memiliki kemampuan untuk memenuhi standar itu. Tapi, mereka the looser ini ingin juga tampil seperti the winner.

Akibatnya, segala cara dihalalkan.

Mereka terjebak ke dalam hedonisme dan nihilisme akademik.

Jurnal-jurnal the winner, misalnya, memiliki tingkat pengunjung yang tinggi. Wajar, karena memang barang-barang yang dijualnya berkualitas, bermerek dan berprestise. Itulah presentasi plus prestise.

Di sisi lain, the looser ingin juga seperti itu dengan menerapkan teknik klik imitasi karena mengejar prestise minus presentasi.

Pendek kata, interaksi sosial yang dibangun di atas paradigma kompetisi kemungkinan besar menjadikan sebagian besar dari kita terperosok ke dalam nihilisme budaya hedonis.

Akankah kampus Multikultural-Ulurrahmah ini diantar ke depan gerbang budaya akhir zaman ini, selebihnya dia akan menjatuhkan dirinya sendiri tanpa energi inertial?

Penulis: Sulaiman Mappiasse

*** Pengumuman Penjaringan Bakal Calon Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado Periode 2019-2023 ***