IAIN MANADO – Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado selenggarakan Rapat Kerja (Raker) yang berlangsung selama 3 (tiga) hari pada 08 s.d. 10 Februari 2018. Raker IAIN Manado tahun 2018 yang diikukti oleh seluruh jajaran pimpinan dan pejabat struktural mulai dari Kepala Biro, para Kabag, dan para Kasubag, serta seluruh dosen yang mengampu tugas tambahan dibuka oleh Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si. Dalam sambutannya, Rukmina Gonibala menyampaikan bahwa pelaksanaan Raker IAIN Manado tahun 2018 sedianya akan dilaksanakan di luar daerah namun dengan pertimbangan efisiensi dan efektivitas kerja terutama untuk mempesiapkan agenda Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) yang sangat mendesak Raker IAIN Manado tahun 2018 ini dilaksanakan di dalam kota. Ia juga menyampaikan bahwa Raker yang dilaksanakan di tahun 2018 kali ini berbeda dengan Raker di tahun-tahun sebelumnya. “Jika Raker sebelumnya hanya diikuti oleh unsur pimpinan dan pejabat secara terbatas, kali ini kita ikutkan seluruh pimpinan dan pejabat di lingkungan IAIN Manado”, lanjutnya.

Raker IAIN Manado tahun 2018 yang dilaksanakan di Hotel Sutanraja, Minahasa Utara itu turut menghadirkan Inspektur Jenderal (Irjen) Kemenag RI, Inspektur Wilayah (Irwil) II Itjen Kemenag RI, dan Kabag Perencanaan Ditjen Pendis Kemenag RI, Ridwan, M.Pd.

Irjen Kemenag RI, Prof. Dr. Phil. M. Nur Kholis Setiawan, M.A, yang menjadi pemateri pada hari pertama Raker berbicara tentang pengawasan terhadap pelaksanaan program dan kegiatan pada Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Nur Kholis Setiawan, Guru besar yang menyelesaikan studi doktoralnya dari Oriental and Islamic Studies Universitas Bonn Jerman tersebut memulai paparannya tentang kebijakan pengawasan terhadap satuan kerja di lingkungan kementerian agama termasuk satuan kerja Institut Agama Islam Negeri (IAIN). “Sebagai lembaga pengawasan internal, Inspektorat Jenderal Kementerian Agama mempunyai kewajiban untuk melakukan pengawasan intern terhadap seluruh program dan kegiatan Kementerian Agama”, tegasnya. Lanjut dikemukakan bahwa  pengawasan tersebut dilakukan melalui kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan dan kegiatan pengawasan lainnya.

Nur Kholis yang merupakan Guru Besar pada UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu mengemukakan bahwa dengan pengawasan Inspektorat Jenderal diharapkan seluruh sendi-sendi organisasi Kementerian Agama termasuk Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado dapat berfungsi secara maksimal sehingga terwujud tata kelola birokrasi Kementerian Agama yang profesional berbasiskan semangat religi, bahwa bekerja adalah ibadah.

Sementara itu, Irwil II Itjen Kemenag RI, Drs. Maman Saefullah, M.M, yang tampil pada hari kedua Raker menjelaskan tentang kebijakan teknis pengawasan dan pemeriksaan khususnya pada satuan kerja peguruan tinggi. Menurut Maman Saefullah yang sudah beberapa kali hadir menyampaikan meteri dalam kegiatan Raker IAIN Manado bahwa dalam mengadapi tim auditor prinsipnya adalah apa yang ditanya oleh tim auditor harus dijawab dengan baik dan dibuktikan dengan data pendukung yang relevan dan tepat. Ia juga menegaskan bahwa bahwa Itjen Kemenag RI saat ini tidak lagi berbasis pada penindakan akan tetapi berbasis pada pendampingan dan pembinaan.

Maman menegaskan bahwa tujuan audit adalah untuk mendapatkan keyakinan yang memadai terhadap kinerja satuan kerja (Satker) dengan melakukan pengujian informasi kinerja dan bukti capaian kinerja. Selain itu, untuk memberikan informasi dalam rangka memperbaiki kinerja dan memfasilitasi pembuat keputusan oleh pihak yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan perbaikan dan akuntabilitas publik. “Tim audit Itjen merupakan kombinasi dari auditor senior dan yunior yang insya Allah akan bekerja secara profesional, transparan, dan akuntabel,” lanjut Maman.

Sedangkan, Kabag Perencanaan Ditjen Pendis Kemenag RI, Ridwan, M.Pd yang tampil pada hari ketiga Raker berbicara tentang kebijakan teknis dan penganggaran tahun 2018. Ridwan menyampaikan bahwa postur anggaran di kementerian agama khususnya di lingkup kerja Pendis mengalami peningkatan, namun peningkatan anggaran tersebut masih bertumpu pada belanja pegawai khususnya belanja pegawai non-PNS dan tunjangan sertifikasi guru non-PNS.

Sementara itu, terkait dengan pelaksanaan pemberian tunjangan kinerja guru dan dosen, menurut Ridwan hal tersebut pasti direalisasikan namun disesuaikan dengan ketersediaan anggaran yang ada. Di akhir pemaparan materinya, Ridwan berpesan agar IAIN Manado segera merealisasikan program yang telah direncanakan sehingga seluruh program dapat terlaksana sesuai dengan time line yang ada.

Kegiatan Raker IAIN Manado yang ikut dipantau langsung oleh Rektor sejak pembukaan hari pertama hingga penutupan Raker pada hari ketiga berhasil menghasilkan sebanyak 32 rumusan rekomendasi yang akan menjadi agenda perbaikan dan orientasi perubahan tata kelola organisasi di lingkungan IAIN Manado untuk mencapai visi dan misinya sebagai perguruan tinggi Islam berbasis multikultural.

Rumusan rekomendasi yang dibacakan jelang penutupan Raker dan langsung diserahkan kepada Rektor itu merupakan hasil-hasil sidang komisi yang terbagi atas tiga komisi, yaitu komisi I yang membahas tentang evaluasi kegiatan 2017, sinkronisasi program kerja, dan pemantapan kegiatan 2018, komisi II yang membahas tentang peningkatan pelayanan publik (penguatan pedoman-pedoman pelayanan dan standard operating procedure), dan komisi III yang membahas tentang pengembangan tridharma perguran tinggi (arah kebijakan pengembangan IAIN Manado dan Percepatan Penyusunan Dokumen AIPT).

Sidang komisi yang berlangsung pada hari kedua Raker berlangsung alot dan dinamis. Pada umumnya peserta sidang komisi ikut aktif berkontribusi menyampakan ide dan pemikiran mereka tentang agenda dan skenario strategis perubahan IAIN Manado. Mayoritas peserta sidang komisi mengharapkan akselerasi perubahan dan pengembangan IAIN Manado. Hal ini tampak dalam pemaparan hasil sidang komisi dalam sesi pleno oleh masing-masing ketua komisi. Sidang pleno yang dijadwalkan berakhir pada pukul 22.00 ngolor 1 jam karena banyaknya tanggapan peserta sidang.

Sulaiman Mappiasse, Ph.D yang didaulat sebagai ketua tim perumus hasil sidang komisi dalam sesi tanggapan dalam sidang pleno mengungkap perspektif pengembangan IAIN Manado secara komprehensif. Menurut Sulaiman, pilihan dan sekaligus orientasi pengembangan IAIN Manado harus bertumpu pada pengembangan sistem dengan berkaca pada apa yang telah dicontohkan dengan sangat baik oleh UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. “Dengan keterbatasan pada ‘daya jual’ aktor sumber daya manusia yang dimiliki oleh IAIN Manado, maka kita tidak punya pilihan lain selain membangun dan memperkuat sistem yang kita miliki, dan sistem yang kita miliki inilah yang dapat dijadikan branding untuk membangun citra positif sehingga secara perlahan public trust terhadap institusi IAIN Manado akan meningkat”, tegasnya.

Sementara itu, Hasyim S. Lahilote, S.H, M.H. yang merupakan Wakil Dekan II Fakultas Syariah memuji langkah yang dilakukan oleh Rektor untuk melibatkan seluruh jajaran pejabat dalam Raker. “Sepanjang pengalaman saya, inilah Raker terbaik yang pernah saya ikuti selama ni”, pungkasnya. Hasyim yang adalah kandidat doktor ilmu hukum Universitas Sam Ratulangi Manado ini mengkritisi berbagai produk hukum yang dikeluarkan oleh IAIN Manado. Menurutnya, berbagai produk hukum seperti buku-buku pedoman sebaiknya dihimpun dan dilegislasi oleh Senat kemudian ditetapkan melalui Keputusan Rektor dalam satu paket produk hukum.

Masalah sarana dan prasarana juga menjadi isu sentral yang banyak disoroti. Dr. Rosdalina Bukido, M.Hum., misalnya, dalam tanggapannya mengungkapkan bahwa sarana dan prasarana terutama di Fakultas Syariah sangat membutuhkan perhatian. “Selain kecukupan, masalah kelayakan sarana dan prasarana juga mendesak untuk dicarikan solusinya”, tegasnya. Rosdalina juga menyoroti jurnal berkala ilmiah yang dimiliki IAIN Manado yang hingga saat ini belum ada satu pun yang terakreditasi. Ia meminta pimpinan agar segera mengambil langkah-langkah taktis dan strategis untuk mendorong akreditasi jurnal yang ada di IAIN Manado melalui dukungan penganggaran yang memadai. Hal lain yang ikut disoroti oleh Wakil Dekan I Fakultas Syariah ini ialah perlunya akselerasi jabatan fungsional guru besar.

Masalah lainnya yang juga menjadi sorotan utama dalam pemaparan ketiga komisi dalam sidang pleno ialah masalah sistem informasi akademik atau SIAKAD IAIN Manado. Para operator SIAKAD di seluruh fakultas mengeluhkan infrastruktur SIAKAD yang dalam banyak kasus masih banyak ditemukan kekurangan seperti sinkronisasi data dan juga masalah infrastruktur jaringan yang banyak bermasalah. Oleh karena itu, pada umumnya semua pihak mendorong pengembangan sistem informasi akademik melalui provider yang lebih baik, bereputas, dan telah memiliki catatan keberhasilan dalam pengembangan sistem informasi.

Raker yang berlangsung selama 3 (tiga) hari dan diikuti oleh 61 peserta dari 65 peserta yang direncanakan itu ditutup oleh Rektor IAIN Manado. Dalam sambutan penutupannya, Rektor IAIN Manado, Dr. Rukmina Gonibala, M.Si menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada seluruh peserta Raker yang telah menunjukkan partisipasi aktif dari sejak pembukaan hingga penutupan. Ia juga berpesan dan berharap agar seluruh komponen di IAIN Manado ikut serta mengawal dan memastikan terlaksananya seluruh program yang ada. “Termasuk berbagai rumusan rekomendasi pengembangan dan perubahan yang telah dihasilkan melalui Raker ini agar kiranya     semua pihak ikut serta bekerja nyata mewujudkannya untuk mendorong perubahan kampus kita secara berkelanjutan”, pintanya. (at)

Reportase: Dr. Ardianto, M.Pd

 

%d bloggers like this: