Apabila keberadaan atau kehidupan (ruh) perguruan tinggi diukur dengan kemampuannya menerjemahkan tiga ranah kerja atau fungsi yang dikenal dengan Tridharma Perguruan Tinggi, maka dua per tiga dari tanggungjawab dan wewenang pengadministrasian dan pendampingan tiga ranah tersebut ada di pundak LP2M.

Artinya, dua pertiga (2/3) fungsi perguruan tinggi ditentukan oleh kehandalan, kedalaman perspektif, dan kreativitas para aparatus yang menjalankan LP2M.

Fakta ini dapat digambarkan dalam Aritmetika tingkat sekolah dasar sebagai berikut:

Kehadiran Perguruan Tinggi= P
Pengajaran= p1
Penelitian= p2
Pengabdian= p3
P= p1 + p2 + p3

Idealnya P= 1/3 + 1/3 + 1/3

P= 3/3

Bayangkan dua per tiga dari ruh IAIN Manado ada dalam lembaga yang bernama LP2M.

Tapi fakta yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa kita kurang memahami posisi strategis LP2M.

Kegagalan paham ini ditandai dengan kurangnya bahkan tidak adanya karya dosen yang dapat dibanggakan lahir dari pendampingan langsung LP2M.

Hubungan antara LP2M dan para dosen sebagai mitra strategis atau terpenting hanya sebatas hubungan dalam urusan administrasi atau penghonoran.

Padahal dosen membutuhkan mitra yang memiliki strategi pendampingan komprehensif yang dikembangkan secara partisipatori. Sebuah strategi yang sensitif terhadap kebutuhan mereka.

Pendampingan ini semakin terasa urgensinya apabila kita mengingat rendahnya secara umum daya saing personel dosen IAIN Manado.

Akhir-akhir ini, LP2M berinteraksi dengan dosen dalam dua perspektif yang kontradiktif tetapi memiliki dampak negatif yang sama.

Di satu sisi, dosen dipandang sebagai sekelompok orang cerdas yang dapat menyelesaikan segala persoalan, meskipun tanpa pendampingan.

Perspektif ini dimanifestasikan dengan minimnya layanan pendampingan yang dilakukan bagi dosen dalam menerjemahkan tugas mereka sebagai peneliti dan pengabdi masyarakat.

Di sisi lain, dosen dipandang sebagai sekelompok orang yang tidak mengerti apa-apa sehingga keputusan dan kebijakan apapun yang diambil, mereka akan menerima dan menjalankannya dengan baik.

Baik dengan perspektif pertama maupun kedua, dosen dirugikan.

Kerugiannya pun bersifat multidimensional, mencakup psikologis, akademik, dan finansial.

Secara psikologis, dosen merasa tidak nyaman dan aman menjalankan fungsi penelitian dan pengabdiannya karena mereka tidak memiliki trust terhadap lembaga pengayomnya, yakni LP2M.

Secara akademik, fungsi dosen sebagai pengembang Tridharma Perguruan Tinggi tidak berjalan dengan baik sehingga secara akademik mereka tidak berkembang. Itu karena mereka tidak mendapatkan lingkungan yang kondusif untuk menjalankan dan memainkan fungsinya.

Secara finansial, dosen-dosen sudah merasakan bagaimana pahitnya menjalankan fungsi pengembangan penelitian yang harus berakhir dengan sanksi TGR.

TGR, tentu saja, tidak dapat dipandang hanya sebagai sebuah peristiwa yang berdiri sendiri sehingga saat terjadi hanya dosen bersangkutan yang menanggung pahitnya.

TGR harus dipandang sebagai buah atau akibat dari serangkaian proses yang tidak sehat, yang berujung pada sebuah peristiwa yang menyengsarakan.

Lebih fatal lagi, kesengsaraan ini berdampak secara dalam dan luas bagi dosen sebagai profesi, dan bagi institusi sebagai instrumen pendidikan.

Tentu tidak adil secara faktual berkata bahwa itu sepenuhnya karena LP2M IAIN Manado.

Dosen pun berkontribusi dalam peristiwa itu, tetapi kontribusinya tidak sebesar kontribusi aparatus LP2M dan para pejabat terkait.

Kontribusi dosen hanya bersifat subyektif. Sementara kontribusi LP2M dan pejabat terkait bersifat obyektif sistematis struktural.

Aparatus LP2M perlu mengembangkan dan menerjemahkan perspektif yang lebih relevan dan lebih produktif.

Sekali lagi, aparatus LP2M IAIN Manado dan pejabat terkait harus segera menyadari sepenuhnya bahwa dua per tiga dari kehidupan atau ruh IAIN Manado ada dalam genggaman aparatus LP2M.
Mereka harus memahami kadar ini.

Mereka adalah 2/3 dari total 3/3 IAIN Manado.

Karena itu pikiran dan sepakterjangnya harus pula merepresentasikan 2/3 atau 67 persen dari keberadaan IAIN Manado.

Dengan demikian, LP2M IAIN Manado tidak lagi menjadi ‘teror’ negatif bagi segenap dosen IAIN Manado.

Teror negatif akan berujung pada kegagalan.

Para dosen memerlukan teror yang positif konstruktif, bukan teror negatif destruktif, karena teror positif, sebaliknya, bisa berujung pada kejayaan.

Tentu, proses yang sehat hanya bisa dibangun dengan kebersamaan dan kebersamaan bisa dibangun dengan kedalaman perspektif serta ketulusan dari dalam hati. Bukan perspektif yang sebatas ungkapan arogansi personal dan ketulusan yang hanya sebatas bualan dinding.

Penulis: Sulaiman Mappiasse
Ditulis hari Jumat (2/3/2018) dalam Pesawat Lion Air Surabaya-Manado (13.15-14.30).

*** Pengumuman Penjaringan Bakal Calon Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado Periode 2019-2023 ***
%d bloggers like this: