Bersinergi Ciptakan Perubahan

Penulis: Ardianto Tola

Menyimak beragam respon, catatan, kritik, ciutan, atau sejenisnya dari civitas akademik terkait kebijakan “IAIN Manado Satu Pintu” yang efektif diberlakukan 5 November 2018, menjadi pertanda bahwa tampaknya kita masih memiliki modal kuat untuk ciptakan perubahan. “Kegaduhan” ekspresi verbal dari kalangan civitas akademik menunjukkan bahwa kita masih memiliki kepedulian, masih menaruh perhatian yang tinggi terhadap perbaikan tata kelola kampus.

Hanya saja, kita tampaknya perlu menjadikan kata sinergi sebagai tagline, sebagai logo verbal kampus. Setidaknya untuk menjadi memori kolektif kita dan tertanam kuat dalam lambung leksikon masing-masing domain kognitif kita. Pada gilirannya nanti, diharapkan muncul kesadaran kolektif dan kecenderungan untuk bertindak kolektif pula membangun sinergi satu sama lain.

Sinergi adalah bentuk dari sebuah interaksi (proses) yang menghasilkan suatu keseimbangan harmonis sehingga bisa menghasilkan sesuatu yang maksimal. Untuk membangun sinergi dibutuhkan kepemimpinan dengan gaya manajemen sinergi. Kepemimpinan jenis ini dapat membangkitkan kepercayaan antarindividu di dalam organisasi. Membangun komunikasi cepat dan tepat untuk mencegah distorsi pesan serta membudayakan umpan balik yang cepat pula sebagai pola hubungan yang solid.

Dalam organisasi dengan sinergi yang tinggi, pemimpinnya harus menjadi yang terdepan untuk terus melangkah dan memberikan semangat untuk terus maju bergerak menghadapi tantangan. Pemimpinnya mampu meniupkan roh kehidupan ke dalam horizon harapan dan impian orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpinnya harus mampu membangun esprit de corps yaitu perasaan memiliki, kebanggaan, persaudaraan, dan kesetiaan bersama terhadap institusi. Jika esprit de corps yang positif sudah terbentuk, akan tercipta energi dan sinergi yang besar bagi organisasi untuk menggapai mimpinya, mewujudkan visi dan misinya.

 

Dengan esprit de corps, kita dapat bekerja sama dengan hangat dan senyum tulus, berdiskusi di kedai kopi kampus sambil menikmati kopi. Atau, duduk santai di gazebo kampus membaca buku hidangan para pegiat literasi sembari menerima masukan dari para petugas cleaning service, atau satpam melalui percakapan tanpa jarak dan batas. Tanpa target pencitraan.

Kreativitas dan inovasi karenanya perlu terus digalakkan sehingga memperkuat dan memerkaya sinergisitas dalam organisasi. “Rektorat Bermatabat”, misalnya, adalah contoh inovasi kebijakan pimpinan yang layak diamini. Melalui tim yang bersinergi, semua anggota tim berkontribusi sehingga setiap gagasan atau gerakan pembaharuan dapat diimplementasikan dengan baik. Anggota-anggota tim tidak lagi sibuk memperdebatkan siapa yang paling berjasa dalam mencetuskan gagasan tersebut. Mengapa demikian? Karena pada akhirnya, gagasan bernas tersebut sudah diolah secara bersama-sama menjadi rencana kongkret, dan pada akhirnya menjadi tindakan nyata. Semua orang berkontribusi dan setiap anggota mengetahuinya. Hal inilah yang lazim kita sebut kolaborasi.

Kuncinya Saling Percaya

Prinsip fundemantal yang harus dihadirkan dalam menciptakan sinergisitas di kampus ialah membangun kepercayaan. Kondisi saling memercayai mutlak dibangun. Ini penting karena kepercayaan yang bijak dan cerdas adalah hal yang dapat mengubah sesuatu atau mewujudkan dinamika menuju perubahan yang diharapkan.

 

Dalam organisasi kemampuan untuk membangun, menumbuhkan, dan menjaga kepercayaan merupakan kunci sinergi. Dalam konteks organisasi kampus, misalnya, mahasiswa menaruh kepercayaan terhadap dosen dan sebaliknya. Pegawai memiliki kepercayaan terhadap dosen demikian pula sebaliknya. Bawahan percaya terhadap atasan juga sebaliknya atasan percaya pada bawahannya. Intinya kepercayaan adalah sesuatu hal mandasar bagi sebuah relasi kerja. Di dalamnya terdapat kesempatan untuk melakukan aktivitas yang kooperatif dan kolaboratif, self-respect, dan nilai moral kerja lainnya.

Jika saling percaya dan esprit de corps telah tercipta, inilah yang memungkinkan bersemaianya tempat yang mendukung terciptanya sinergi. Diskusi-diskusi positif dan produktif akan semakin tumbuh subur. Dan, perbedaan pendapat menjadi halal. Perbedaan diterima sebagai masukan dan kekuatan, bisa juga sebagai kritik. Dengan demikian, kita menjadi semakin mawas diri, semakin memelihara budaya awas, semakin cermat dalam mengambil keputusan. (bersambung)

No announcement available or all announcement expired.