20170107_1154271

Pagelaran Seni dan Budaya “Multikural Etnik IAIN Manado”

IAIN MANADO – Mengawali tahun 2017, Sabtu pagi, 7 Januari 2017 bertempat di Aula IAIN Manado, beberapa dosen muda Fakultas Syariah dan FEBI IAIN Manado telah memprakarsai penyelenggaraan Pagelaran Seni dan Budaya yang bertajuk Multikural Etnik IAIN Manado. Ibu Kartika Amiri dan Bapak M. Azhar Muslihin sebagai dosen penggagas acara ini telah berhasil membina mahasiswa-mahasiswa berbakat dan mandiri.

20170107_1201581

Dengan menggalang dana secara swakarsa melalui proposal, beberapa instansi telah ikut mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Dinas Pekerjaan Umum, PT. Angkasa Pura, Komunitas Seni (DS) Sulawesi Utara dll. Sebagian dana yang terkumpul juga telah disalurkan ke panti asuhan sebagai wujud kesadaran sosial dan empati kepada anak-anak yatim.

Acara dibuka oleh Dekan FUAD dalam kapasitas mewakili Rektor. Antusiasme sivitas akademika ditunjukkan dengan ramainya penonton dan tepuk tangan serta komentar-komentar spontan di tengah-tengah pertunjukan.tari

Pertunjukan dimulai dengan Tari Kabela dari Bolaang Mongondow, disusul Tari Saman dari Aceh (binaan Bapak Taufani) dan puisi “Aku” karya Hairil Anwar yang dibacakan dalam beberapa versi bahasa daerah yaitu Manado, Sangihe, Bolaang Mongondow dan Makassar.

Sebuah langkah awal yang baik yang perlu didukung oleh seluruh sivitas akademika IAIN Manado baik secara moril maupun materil menuju Perguruan Tinggi Islam yang Bermutu Berbasis Masyarakat Multikultural di Indonesia. (Laily)

Mengapa tidak ber-Bank Syariah?

Oleh Laily Nurhayati

Fatwa MUI Nomor 1 Tahun 2004 tentang Bunga (Interest/Fa’idah) “Bermu’amalah dengan Lembaga Keuangan Konvensional: Untuk wilayah yang sudah ada kantor/jaringan Lembaga Keuangan Syari’ah dan mudah dijangkau, tidak dibolehkan melakukan transaksi yang didasarkan kepada perhitungan bunga.”

Apakah kita sebagai umat muslim sudah menerapkan hal tersebut dalam kehidupan kita sehari-hari? Tentu saja belum. Keinginan umat muslim untuk menjalankan perintah Allah ini masih sangat minim. Terbukti Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar umat muslim di dunia, tetapi perkembangan bank syariah di Indonesia masih sangat rendah. Seharusnya sebagai Negara mayoritas berpenduduk muslim, Indonesia menjadi Negara peringkat satu untuk perkembangan bank syariahnya. Laporan perkembangan bank syariah di Indonesia hanya menduduki peringkat 5 di dunia (Presentasi Direktur Operasional BRIS dalam Kuliah Umum di IAIN Manado tanggal 29 sept 2016).

Malaysia sebagai Negara peringkat 1 dengan perkembangan ekonomi/bank syariahnya ternyata tidak luput dari campur tangan dan dukungan pemerintahnya dengan mengeluarkan kebijakan yang mendukung seperti insentif pajak, bantuan riset, kemudian dana APBN-nya ditempatkan sebagian ke bank syariah.

Inggris saat ini telah menjadi pusat pengembangan studi Islam di dunia. Negara-negara tersebut adalah Negara berpenduduk minoritas Islam. “Keuangan Islam menarik bagi mereka yang setuju dengan prinsip-prinsip yang mendasari pemerataan dan perdagangan yang adil. Selain itu, bank syariah dinilai jujur dan mementingkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Saya percaya operasional secara Islami dari sistem keuangan Islam adalah alasan utama di balik pertumbuhan sistem keuangan Islam diantara komunitas non-Muslim di Inggris,” kata Kepala Divisi Penjualan dan Pemasaran Ritel di Al Rayan Bank Tim Sinclair sebagaimana dikutip On Islam.net.

Di Indonesia, diperlukan effort yang tinggi dalam mengembangkan ekonomi syariah khususnya perbankan syariah di Indonesia. Semua unsur harus terlibat. Bukan saja pihak pemerintah tetapi yang lebih menentukan adalah umat muslim itu sendiri. Fatwa MUI belumlah cukup. Harus ada gerakan perubahan di lingkungan pemerintah khususnya amirul mukminin di Indonesia yaitu Menteri Agama.

Sebagai langkah awal, Menteri Agama sudah mengalihkan biaya penyelenggaraan ibadah haji mulai tahun 2015 dari rekening bank konvensional ke bank syariah. Walaupun belum 100 %. Pemerintah dalam hal ini Menteri Agama punya wewenang untuk mengalihkan semua transaksi keuangan di lingkungan kementerian agama dari bank konvensional ke bank syariah. Karena untuk menjadi nasabah bank syariah bukan dilihat dari agama yang dianutnya (Islam) tetapi untuk seluruh umat.

Jika seluruh ASN di lingkungan kementerian agama yang berjumlah sekian juta adalah nasabah bank syariah, tentu saja perkembangan bank syariah di Indonesia akan meningkat. Apabila masih dirasa sulit bagi kementerian agama untuk mengalihkan ke bank syariah, bagaimana dengan para pimpinan perguruan tinggi keislaman negeri di Indonesia? Rektor/Ketua adalah pengambil kebijakan tertinggi di lingkungan perguruan tinggi yang dapat mengalihkan semua transaksi keuangan dari bank konvensional ke bank syariah. Jangan sampai kepentingan politik (dunia) lebih dominan daripada kepentingan akhirat. IAIN Manado sudah berpartisipasi mengembangkan perbankan syariah di Sulawesi Utara dengan adanya ketentuan pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) mahasiswa di BRIS. Alangkah baiknya bila semua transaksi keuangan (gaji pegawai, pinjaman pegawai, beasiswa mahasiswa dll) di lingkungan IAIN Manado menggunakan Bank Syariah.

Kementerian Keuangan melalui Peraturan Kementerian Keuangan (PMK) Nomor 11 Tahun 2016 tentang Penyaluran Gaji Melalui Rekening Pegawai Negeri Sipil/Prajurit Tentara Nasional Indonesia/ Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia Pada Bank Umum Secara Terpusat. PMK ini memfasilitasi pembayaran gaji pegawai negeri sipil (PNS), TNI, dan Polri melalui bank syariah. Disebutkan, bank pembayaran gaji PNS, TNI, dan Polri adalah bank umum yang ditunjuk kuasa bendahara umum negara (BUN). Gaji yang disalurkan meliputi gaji induk, gaji ke-13, dan tunjangan hari raya. BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri telah ditunjuk oleh Kementerian Keuangan RI sebagai salah satu Bank Operasional II (BO II) yaitu bank penyalur gaji Pegawai Negeri Sipil Langkah ini diharapkan dapat menjadi bagian dukungan pemerintah bagi perbankan syariah.

Pada Tanggal 12 Januari 2016 Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Republik Indonesia Prof. Nur Syam telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman dan Perjanjian Kerjasama dengan BNI Syariah yang diwakili oleh Imam T Saptono selaku Direktur Bisnis BNI Syariah. Kapankah IAIN Manado akan mengikuti jejak “orang tua” nya dengan ber bank syariah? Bank Syariah yang ditunjuk sebagai bank penyalur gaji PNS oleh Menteri Keuangan dan berada di tengah-tengah kita (Manado) adalah Bank Syariah Mandiri. Mengapa IAIN manado belum memulainya? Kita berharap dan sama-sama berdoa agar di awal tahun 2017 dan dalam suasana HAB Kementerian Agama, resolusi IAIN Manado adalah ber bank syariah. Amin. Insya Allah.

Penulis dapat dikontak laily.nurhayati@iain-manado.ac.id

Dr. Ardianto

Mendisain Pilar Kuantum Perubahan

Penulis: Ardianto Tola

Perubahan status Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Manado menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado kini telah berusia dua tahun sejak diresmikannya pada 19 Desember 2014. Perubahan status kelembagaan ini merupakan manifestasi dari cita-cita besar untuk melakukan lompatan kuantum perubahan.

Agar obsesi dan cita-cita perubahan membuat lompatan kuantum yang strategis, setidaknya ada tiga pilar yang harus divitalkan dalam pengembangan kampus IAIN Manado ke depan, yaitu: Pertama, pilar pencipta ilmu pengetahuan (knowledge production). Sudah saatnya kita mengarahkan kampus untuk memproduksi pemikiran, gagasan, dan model-model baru yang lebih mutakhir dalam bidang sosial dan keagamaan (sebagai nomenklatur keilmuan lembaga). Manifestasinya ialah dosen dan mahasiswa harus didorong untuk “mencipta” atau memproduksi gagasan-gagasan dan model-model baru dalam hal pembelajaran. Semangat eksplorasi dan penemuan (exploration and invention) hal-hal baru yang bermanfaat bagi kemanusiaan harus menjadi orientasi pengajaran. Hal ini tentu merupakan suatu obsesi besar, dan karena itu membutuhkan kerja sama seluruh civitas akademik pada semua lini, memerlukan modal yang besar, dan komitmen yang tinggi, serta rasa ingin tahu yang kuat. Modal utama yang harus dimiliki adalah budaya akademik yang tinggi dan terus-menerus mendorong perkembangan keilmuan sehingga dapat menghasilkan karya-karya intelektual yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Oleh karena itu, kampus harus didorong dan diorintasikan untuk berinvestasi pada sumber pengetahuan, yakni perpustakaan. Utamanya, repositori digital jurnal ilmiah yang menawarkan ilmu-ilmu pengetahuan terbaru. Perpustakaan harus dibangun dan dikelola dengan efektif untuk mengakomodasi tujuan ini, selain juga berfungsi sebagai simbol ‘rumah ilmu’ bagi kampus. Misalnya, University of Helsinki di Finlandia melakukan renovasi gedung perpustakaan kampusnya dengan gaya desain arsitektur yang menawan sehingga belajar dan membaca menjadi mengasyikkan. Perpustakaan di University of Helsinki pascarenovasi ini menampung jutaan koleksi buku cetak dan artikel digital. Pendek kata, perpustakaan sebagai sumber pengetahuan merupakan sebuah konsekuensi logis dari komitmen perguruan tinggi untuk memenuhi tugasnya sebagai tempat pencipta ilmu pengetahuan (knowledge production).

Kedua, pilar riset. Untuk menopang terwujudnya spirit produksi pengetahuan, maka harus ada kebijakan yang bersifat strategis dan serius dari pimpinan untuk mendorong penguatan bidang riset, baik di kalangan dosen maupun mahasiswa. Manifestasi penguatan tersebut berupa regulasi dan dukungan penganggaran yang memadai, penguatan kapasitas para dosen dalam bidang penelitian, affirmative action untuk mendorong kompetisi dalam bidang penelitian, diversifikasi bidang dan masalah penelitian, dan publikasi ilmiah hasil-hasil penelitian sehingga dapat diakses oleh masyarakat secara luas. Minimnya anggaran dalam bidang penelitian, misalnya, dipastikan tidak akan menghasilkan penelitian yang berkualitas dan mendalam. Oleh karena itu, maka wajar saja penelitian-penelitian yang ada masih jauh dari harapan.

Penguatan riset ini sangat strategis dalam rangka meningkatkan promosi dan nilai kompetitif kampus yang tentu saja berkontribusi tinggi dalam pencapaian akreditasi institusi. Perlu dicatat bahwa reputasi perguruan tinggi sangat bergantung pada riset. Bahkan semua perguruan tinggi berkelas dunia berbasis pada riset. Untuk itu, Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LP2M) sebagai leading sector di bidang riset harus membuat Rencana Induk Penelitian sebagai pedoman pengembangan riset. Lembaga ini harus mempunyai inovasi program dalam bidang penelitian dan pengabdian yang didukung dengan berbagai instrumen regulasi yang dapat mendorong para dosen dan mahasiswa untuk melakukan penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang berkualitas.

Dalam rangka pengembangan bidang penelitian dan keilmuan, LP2M sebagai lembaga riset kampus perlu mengarahkan programnya untuk menghasilkan karya-karya penelitian yang berkualitas, meningkatkan produktivitas publikasi ilmiah, membudayakan perolehan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas karya civitas akademika, dan  meningkatkan efektivitas dan efisiensi sistem informasi penelitian. Selain itu, ia juga harus meningkatkan tata kelelola kelembagaan dan membangun kerja sama penelitian dengan lembaga riset di perguruan tinggi dalam dan luar negeri dan lembaga-lembaga riset nonperguruan tinggi lainnya. Hanya dengan cara inilah LP2M dapat berkontribusi terhadap penguatan pilar riset.

Komitmen pada penguatan riset juga harus tercermin dalam orientasi pendidikan dan penjagaran yang dilakukan di kampus. Manifestasinya adalah pendidikan dan penjajaran yang dilakukan haruslah berbasis pada penelitian (based on research). Pendidikan dan pengajaran harus diperlakukan sebagai input penelitian. Manifestasinya ialah perlu diciptakan keseimbangan antara waktu pengajaran di kelas dan riset. Orientasi pengajaran berbasis riset dan pengembangan masyarakat ini  sudah barang tentu meniscayakan perubahan yang mendasar dalam sistem perkuliahan termasuk di dalamnya adalah struktur dan pembobotan satuan kredit semester (SKS) mata kuliah program studi.

Ketiga, pilar jaringan kerja sama. Pilar ketiga yang harus diperkuat dalam rangka menyangga lembaga yang akan memproduksi pengetahuan dan meningkatkan kegiatan penelitian adalah memperluas dan mengintensifkan jaringan kerja sama dengan pihak-pihak luar, baik dalam maupun luar negeri. Karena ini konteksnya penguatan produksi pengetahuan dan penelitian, maka jaringan kerja sama yang harus diperkuat adalah kerja sama dalam bidang pengembangan keilmuan dan riset. Tentu saja sasaran dari kerja samanya adalah Perguruan Tinggi (PT), baik dalam maupun luar negeri. Interrelasi ini dimaksudkan untuk “membuka selubung kabut” yang membatasi cakrawala wawasan civitas akademika, agar tidak lagi berjalan di tempat (involutive) dan sempit (narrow minded). Wujud kerja samanya bisa dalam bentuk dosen tamu, chair lecture, pertukaran mahasiswa, akses jurnal ilmiah nasional dan internasional, dan pada saatnya nanti dapat dikembangkan kerja sama riset (collaborative research) dengan perguruan tinggi dalam dan luar negeri.

Untuk penguatan pilar jaringan kerja sama, setidaknya hal ini sudah mulai dirintis. Salah satu manifestasi penguatan kerja sama tersebut ialah pelaksanaan International Postgraduate Research Conference (IPRC) yang sukses dilaksanakan pada beberapa waktu yang lalu melalui kolabarasi lintas perguruan tinggi termasuk Universiti Sultan Zainal Abidin Malaysia. Melalui momentum IPRC ini pula, telah berhasil digagas dan dideklarasikan Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) sebagai wadah dalam melakukan penelitian bersama dan penguatan akademik, serta penguatan kapasistas kelembagaan masing-masing perguruan tinggi. Untuk menjamin keberlanjutan kerja sama ini maka kampus harus memiliki keberpihakan melalui dukungan program dan penganggaran yang memadai. Melalui dukungan program dan anggaran yang memadai itulah dapat dipastikan keberlanjutan penguatan pilar jaringan kerja sama.

Ketiga pilar di atas setidaknya dapat menjadi pilihan dan orientasi pengembangan IAIN Manado ke depan. Agar gerakan pengembangan dan perubahan itu terarah dengan baik, maka sudah saatnya kampus ini membentuk pusat reformasi pendidikan (centre of education reform) yang dilakoni oleh sumber daya manusia (SDM) yang tulus dan mau bekerja bukan hanya pada in-role melainkan juga extra-role. Tentu saja SDM yang hanya berbasis pada presensi sidik jari   dan alpa dalam pekerjaan tidak termasuk dalam kelompok ini. Kampus yang maju adalah kampus yang diramaikan oleh kehadiran sumber daya manusianya yang meng”eksistensi”, dan bukan kehadiran artifisial alias semu.

Akhirnya, keluar dari diskursus di atas, atas nama mega proyek perubahan kita perlu menguatkan modal sosial. Modal sosial ini, sebagaimana dijelaskan oleh Francis Fukuyama bertumpu pada rasa saling percaya, mengusung kesepakatan kolektif untuk mengerjakan agenda-agenda penting dan mendasar. Logika yang melahirkan kekuatan modal sosial bergerak paralel dengan perilaku saling menghormati, saling mempercayai, solidaritas (dalam suka dan duka), dan menginginkan hasil akhir yang nyaman (win-win solutions). Semua proses dan aktivitas dalam mengokohkan modal sosial bergerak secara logis, seksama, tertib, dan penuh argumentasi cerdas (yang meyakinkan). Lanskap moral organisasi kampus seperti inilah yang niscaya mengantarkan kita pada proses lompatan kuantum perubahan yang gemilang. Dirgahayu IAIN Manado ke-2!

E-mail: ardianto@iain-manado.ac.id

studium-generale-pps-2016

Program Pascasarjana Selenggarakan Studium Generale

IAIN MANADO – Program Pascasarjana IAIN Manado menyelenggarakan Studium Generale (Kuliah Umum) bertema ”Penisataan Agama dalam Konsep Islam dan Kristen”. Kegiatan yang diselenggarakan pada Jumat, 16 Desember 2016 ini menghadirkan dua narasumber yakni Dr. Nasruddin Yusuf, M.Ag (dosen IAIN Manado) dan Dr. (C). Denni Pinontoan, M.Th (dosen Universitas Kristen Tomohon).

Ketua Panitia Pelaksana, Delmus Puneri Salim, M.A., Ph.D, dalam laporannya pada sesi pembukaan kegiatan Studium Generale menjelaskan bahwa tema yang diusung dalam kegiatan Studium Generale merupakan bagian dari upaya Program Pascasarjana IAIN Manado untuk ikut berpartisipasi memberikan kontribusi positifnya dalam menemukan solusi terhadap permasalahan sosial keagamaan yang tengah dihadapi oleh bangsa Indonesia hari ini. “Problem penistaan agama yang menjadi isu aktual saat ini sangat signifikan untuk didiskusikan dalam ranah akademik agar diperoleh penjelasan akademik ilmiah yang memadai tentang permasalahan penistaan agama”, ungkapnya. “Melalui kajian terhadap tema yang diusung dalam Studium Generale ini diharapkan diperoleh simpul pemahaman penistaan agama dalam konsep Islam dan Kristen sehingga setiap individu dengan keragaman keyakinan dapat saling menghormati satu sama lain”, tegasnya.

Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Gedung Pascasarjana IAIN Manado dibuka oleh Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado, Dr. Rivai Bolotio, M.Pd. Dalam dalam sambutannya mewakili Rektor IAIN Manado, Direktur Program Pascasarjana IAIN Manado ini mengungkapkan bahwa tema yang diangkat oleh Panitia Pelaksana Studium Generale relavan dengan upaya pencapaian salah satu visi IAIN Manado yaitu menjadikan IAIN Manado sebagai kampus berbasis multikultural. Oleh karena itu, program-program dan kegiatan-kegiatan akademik yang dilaksanakan oleh semua unit organisasi termasuk Program Pascasarjana haruslah berorientasi pada pencapaian visi IAIN Manado. “Dalam konteks lokal Sulawesi Utara, yang terkenal dengan mercusuar pluralisme Indonesia, merupakan kewajiban setiap komponen warga masyarakat termasuk komponen perguruan tinggi untuk ikut aktif menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama”, ungkapnya.

Dr. Nasruddin Yusuf, M.Ag, yang adalah Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Utara  dalam pemaparan materinya mengungkapkan bahwa secara terminologis, penistaan berasal dari kata ‘nista’ yang bermakna ‘hina’, ‘rendah’. Dengan demikian, “penistaan agama berarti menghina atau merendahkan agama atau keyakinan” ungkapnya. Akademisi IAIN Manado yang juga Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Utara ini menegaskan bahwa secara normatif landasan hukumnya jelas dalam al-Quran tidak dibenarkan menghina sesembahan agama atau kepercayaan orang lain. “Dalam membangun relasi antaragama, masing-masing pihak harusnya mempunya batasan karena sangatlah penting untuk menghindari campur aduk terhadap hal yang sifatnya prinsip dalam agama”, lanjutnya. Ia juga mengingatkan bahwa pembatasan yang dilakukan jangan sampai mengganggu hubungan baik antarpemuluk agama. “Nilai-nilai toleransi harus tetap dikedepankan”, tegasnya.

Sementara itu, Dr. (C). Denni Pinontoan, M.Th, akademisi dan agamawan Universitas Kristen Tomohon (UKIT) mengungkapkan bahwa secara historis isu penistaan agama dalam Kristen dapat dilacak, misalnya, peristiwa bagaimana Yesus berhadap-hadapan dengan pembencinya yakni kaum elit Yahudi. Orang Yahudi merasa terganggu eksistensinya karena kehadiran Yesus. Untuk menghentikan langkah Yesus, maka para elit Yahudi melayangkan tuduhan, melakukan justifikasi bahwa Yesus telah menista agama karena mengaku sebagai anak Allah (Tuhan). Itulah sebabnya, narasumber yang juga dikenal sebagai budayawan ini berpandangan bahwa penistaan agama tidaklah berwajah tunggal, apa yang terjadi pada Yesus, misalnya, karena tendensi sosial-politik elit Yahudi dan bukan karena murni agama. “Dalam Kristen setiap fase pekembangan agama ini selalu ada kasus/peristiwa yang sama, salah satunya juga tentang reformasi gereja yang dilakukan oleh Marthen Luther. Sang revolusioner itu dituduh melecehkan agama oleh kalangan gereja” ungkapnya. Lebih lanjut dikemukakan bahwa penistaan agama tidak bisa dilihat dari satu sudut pandang saja, harus dari berbagai sudut pandang, ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya. “Hubungan antaragama harus didudukkan sebagai suatu kelaziman sosial dan bukan pada ranah teologis, hanya dengan begitu toleransi antarumat bergama akan dapat terpelihara”, tegasnya. (at).

wp-image-1096066763jpg.jpg

Rektor IAIN Manado Menutup Kegiatan Matrikulasi Bahasa 2016 secara Resmi

IAIN MANADO – Bertempat di Aula IAIN Manado,  acara inugrasi peserta kegiatan Matrikulasi Bahasa Tahun 2016 dilaksanakan hari ini (Sabtu,  3/12/2016).

Matrikulasi Bahasa merupakan program tahunan IAIN Manado untuk meningkatkan kemahiran bahasa Arab dan Inggris bagi mahasiswa baru guna memudahkan mereka menjalani proses pendidikan di era globalisasi. 

Mulai mahasiswa angkatan 2016 sekarang dan seterusnya diwajibkan memiliki sertifikat Matrikulasi Bahasa untuk mengikuti ujian komprehensif. 

Acara penutupan Matrikulasi ini dihadiri jajaran pimpinan kampus dan ditutup secara resmi oleh Rektor IAIN Manado,  Dr.  Hj. Rukmina Gonibala, M.Si.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa pelaksanaan Matrikulasi Bahasa secara terukur dan teroganisir telah menjadi impiannya sejak tahun 2012 dan baru sekarang terwujud. 

Beliau bertekad untuk terus mendorong penguatan kemahiran bahasa Arab dan Inggris bagi mahasiswa IAIN Manado lewat UPB. 

Beliau juga kembali menegaskan bahwa sejak angkatan 2016 ini mahasiswa diwajibkan memiliki sertifikat kemahiran bahasa Arab atau Inggris dari UPB. 

Acara ini diselenggarakan oleh mahasiswa peserta Matrikulasi yang diketuai oleh Rahul Mirza Seklal.

Selain dukungan dana dari UPB dan para sukarelawan,  acara ini disponsori juga oleh JRS,  sebuah organisasi humanitarian internasional yang aktif melakukan pendampingan terhadap pengungsi di berbagai negara.

Grup kesenian Universitas De Lasalle,  Manado dan hadrah dari Banjer turut serta memeriahkan acara ini.

Setelah acara penutupan,  acara dilanjutkan dengan pentas seni,  ramah tamah,  dan sesi photo booth. 

Suasana acara merefleksikan tekad IAIN Manado untuk menerjemahkan visi multikultural-transdidipliner dalam lingkungan kampus. 

Membuka Mata Dunia Melalui Kajian QS.  Al-Maidah 51

​IAIN MANADO –  Fak. Ushuluddin Adab dan Dakwah hari ini (24/11/16) mengadakan kegiatan keilmuan berupa seminar bersekala nasional dengan tema “Reposisi Ulama Tafsir-Hadits Terhadap Implementasi Pemahaman Al-Qur’an (Menilik Fenomena Polemik Surah Al-Maidah ayat 51). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai follow up atas diskusi online antara Fak. Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Manado dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jepang tentang Tafsir QS. Al-Maidah ayat 51 dengan salah satu narasumbernya adalah Dr. Ahmad Rajafi, MHI.

Dalam sambutannya, Dekan FUAD Ibu Dr. Hj. Salma, MHI.,  menyampaikan bahwa meskipun dari segi kuantitas jumlah mahasiwa FUAD terbilang paling sedikit, namun semangat keilmuan dan kemajuan itu yang dikedepankan dengan aksi-aksi nyata berupa kuliah tamu yang rutin dijalan setiap tahun dengan pembicara baik dari dalam maupun luar negeri, termasuk hari ini mendatangkan seorang ahli hadits di Indonesia yakni Prof. Dr. Afifuddin Ahmad, M.Ag., seorang Guru dari UIN Alauddin Makassar sebagai Narasumber dalam kegiatan Seminar Nasional kali ini.

Ditemui terpisah, ketua panitia Dr. Musdalifah Dachrud, M.Si., menerangkan bahwa tereselenggaranya kegiatan ini semata-mata karena kerjasama yang baik seluruh civitas akademika FUAD dengan panitia. Walhasil, target jumlah peserta yang hanya disiapkan untuk seratus orang ternyata membludak hingga lebih dari seratus lima puluh orang peserta. Ini bukti bahwa antusias dosen dan mahasiswa untuk turut serta hadir dalam Seminar Nasional tersebut tinggi dan hasilnya alhamdulillah berjalan dengan baik.

Seminar Nasional yang menggagas kajian sensitif dan sedang hangat diperbincangkan di ranah nasional bahkan internasional ini semata-mata untuk turut andil dalam membangun kampus IAIN Manado menjadi rumah besar kajian multikultural dengan pendekatan Transdisipliner, yang menghadirkan bacaan yang penuh dengan data dan fakta melalui research yang berkesinambungan.

Kegiatan keilmuan seperti ini tidak akan berhenti begitu saja dihari ini, tapi akan terus digalakkan demi terciptanya manusia seutuhnya di muka bumi ini. (ARS)

img-20161113-wa0000

IAIN Manado Menuju Kampus Dunia

IAIN MANADO – Sebanyak 16 perguruan tinggi Indonesia dan Malaysia dalam kegiatan International Postgraduate Research Conference (IPRC) mendeklarasikan Southeast Asia Academic Mobility (SEAAM) sebagai wadah dalam melakukan penelitian bersama.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif bersama antar beberapa perguran tinggi yang melakukan lawatan ilmiah ke beberapa perguruan tinggi di Negeri Jiran Malaysia untuk melahirkan suasana akademik internasional di Indonesia dalam bentuk penelitian bersama dan dipublikasikan untuk menjadi pedoman,” ujar Direktur PPs IAIN Manado, Dr. Rivai Bolotio yang dikonfirmasi, Sabtu (12/11/2016).

Direktur mengatakan, sebagai bentuk komitemen tersebut, PPs IAIN Manado dengan penuh keyakinan mengambil tempat sebagai tuan rumah pertama dalam menggelar kegiatan berskala internasional, yakni International Postgraduate Research Conference (IPRC) 2016 dengan 16 perguruan tinggi baik dari dalam maupun luar negeri hadir di gedung Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado.

Adapun 16 PT itu antara lain IAIN Manado, IAIN Gorontalo, IAIN Palangkaraya, Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya dan Universitas Sam Ratulangi. Kemudian STAIN Sorong, Universitas Kanjuruhan Malang, Universiti Sultan Zainal Abidin, Universiti Utara Malaysia, Universitas Muhammadiyah Makassar dan STISIP Amal Ilmiah YAPIS.

Rektor IAIN Manado dalam sambutan acara pentupan IPRC menjelaskan bahwa inisiatif ini menjadi awal untuk melakukan kolaborasi antarbangsa dan turut membawa IAIN Manado menjadi Kampus Dunia sebagaimana keberadaan perguruan tinggi yang telah maju di pulau Jawa dan Sumatera. Untuk itu, kegitan IPRC ini seyogyanya menjadi dinamisator bagi kemajuan masyarakat yang memerlukan penelitian, dan studi-studi keagamaannya tidak hanya sampai pada publikasi saja. (13/11/2016)

Sementara itu Dr. Ahmad Rajafi sebagai ketua panitia pelaksana kegiatan IPRC menyatakan, “IPRC merupakan ikhtiar pascasarjana IAIN Manado untuk memberikan ajang bagi mahasiswa pascasarjana dalam mempresentasikan hasil penelitian yang mereka lakukan, dan dalam kegiatan IPRC tahun 2017 yang akan datang di University Sultan Zainal Abidin (UNISZA) Malaysia, PPs IAIN Manado harus mampu berpartisipasi bukan sekedar sebagai pendengar tapi sebagai presenter, sekaligus memiliki kesempatan untuk berdiskusi dengan kolega mereka dari sesama mahasiswa pascasarjana di luar negeri,” terangnya.

Adapun dosen-dosen Pascasarjana IAIN Manado yang turut berpartisipasi sebagai Moderator dalam presentasi paper para pembicara kunci adalah; Delmus P Salim, Ph.D., Sulaiman Mappiasse,  Ph.D., dan Dr. Musdalifah.(arjf)

wp-image-1017565170jpg.jpg

International Postgraduate Research Conference (IPRC),  Perhelatan Akademik International di IAIN Manado

IAIN MANADO– Program Pascasarjana IAIN Manado telah sukses melaksanakan perhelatan akademik berskala international lewat program International Postgraduate Research Conference (IPRC). 
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari,  12-13 November 2016.

IPRC merupakan wujud kerjasama antar berbagai perguruan tinggi di kawasan ASEAN yang memiliki visa multikultural-transdidipliner. 

IPRC bertujuan untuk berkontribusi secara signifikan pada agenda pengembangan dan penguatan kapasitas akademik dan kelembagaan berbagai institusi yang terlibat.

Atas prakarsa kolaboratif IAIN Manado, STAIN Sorong, dan Universitas Airlangga Surabaya, IPRC menjadi wahana kerjasama lintas perguruan tinggi pada strata program pascasarjana.

Para pihak yang terlibat dalam IPRC kali ini menyepakati pembentukan program Southeast Asia Acedemic Mobility (SEAAM) untuk dilaksanakan secara kolaboratif sepanjang tahun 2017.

IPRC selanjutnya akan diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan SEAAM yang akan dilaksanakan di Universiti Sultan Zainal Abidin, Malayisa, Oktober 2017.

Kegiatan ini memiliki dampak positif terhadap pembentukan nuansa akademik di IAIN Manado.

Beberapa pembicara internasional dalam acara ini diundang menjadi dosen tamu di fakultas-fakultas IAIN Manado.(slm)

20160531_124338

Multikulturalisme dan Transdisiplinerisme: Paradigma Reformasi Pendidikan IAIN Manado (1)

Penulis: Sulaiman Mappiasse

Masyarakat Sulawesi Utara, khususnya kota Manado, dikenal sebagai masyarakat multi ras, etnis, agama, dan budaya. Kondisi alami ini melahirkan keragaman ekonomi, politik, cita rasa dan pengalaman.

Berangkat dari kesadaran ekologis ini, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado berusaha menemukan relevansi lokalitasnya dalam rangka menemukan makna terdalam dan nilai tertinggi keberadaannya.

Kesadaran ekologis dan komunikasi dialogis antar berbagai pihak, khususnya civitas akademika IAIN Manado, melahirkan paradigma reformasi pendidikan baru bagi IAIN Manado. Ini yang disebut dengan multikulturalisme.

Kata multikultural dapat dimaknai pada tiga level, yakni realitas, teori analisis,  dan sikap-harapan.

Pada tataran realitas, multikulturalitas adalah hukum alam yang telah ditetapkan Sang Pencipta. Keragaman merupakan realitas kehidupan yang tak terelakkan. Keragaman adalah ciptaan Tuhan yang mendatangkan energi dahsyat bagi kehidupan semesta. Keragaman adalah bentuk tertinggi dari keindahan yang memicu gerak perubahan bagi alam semesta. Keragaman adalah wujud kekuasaan Tuhan yang maha.

Multikulturalitas sebagai bentuk keragaman merupakan esensi kehidupan yang sering mendapatkan tantangan dan perlawanan dari kalangan yang tidak memahami esensi kehidupan. Mereka memaksakan keseragaman dan hanya mengenal keadaan dan keberadaan “saya” dan “kami”. Mereka tidak menerima keberadaan “yang lain” yang ada untuk mengada.

Intensitas mobilitas dan interaksi manusia akhir-akhir ini, tidak terkecuali di Sulawesi Utara, menciptakan pola dan peta sosial baru. Banyak masyarakat yang terbiasa dengan keseragaman lambat laun dipaksa menerima keragaman. Di sisi lain, banyak masyarakat yang terbiasa dengan keragaman tergoda untuk memaksakaan keseragaman.

Generasi sebelum kita memiliki peta mental yang cenderung homogen tentang Sulawesi Utara, misalnya. Arus imigrasi dan emigrasi dari dan ke Sulawesi Utara menjadikan Sulawesi Utara semakin ragam dalam berbagai aspek. Homogenitas yang semakin kompleks ini memerlukan keterampilan individual dan kolektif baru anggota masyarakat.

Fenomena baru ini bagi sebagian orang dipahami sebagai kesempatan, dan sebagian lagi sebagai hambatan dan ancaman.

Guna memahami dan mengalami fenomena seperti ini secara produktif, paradigma sosial dan intelektual berbasis multikultural semakin diperlukan. Dengan wawasan multikultural, keragaman akan dimaknai sebagai kesempatan yang baik untuk menumbuhkembangkan nilai-nilai demokratis secara alamiah.

Dengan nilai tersebut, semua anggota masyarakat seyogyanya dipandang sebagai warga sejawat yang mimiliki hak dan kewajiban sama dalam mewujudkan cita-cita dan impian hidup.

Pada tataran teori, multikulturalisme dipahami sebagai pisau atau instrumen analisis yang dapat membantu kita memahami, menguraikan,  dan menjelaskan kompleksitas sosial yang ada di sekeliling kita.

Dalam kerangka ini,  masyarakat tidak lagi dapat dipahami dengan perspektif unidimensional yang dominatif . Masyarakat hanya dapat dipahami dan dijelaskan dalam perspektif plural di mana masyarakat dan segala peristiwa yang terjadi di dalamnya dimaknai sebagai karya bersama.

Pada tataran sikap-harapan, multikulturalisme mengidealkan sebuah masyarakat di mana perbedaan dan keragaman tidak dikelola secara sektarian dan diskriminatif di mana kelompok mayoritas cenderung memaksakan keseragaman atau kepentingan.

Sebaliknya, kelompok minoritas tidak memanfaatkan keminoritasannya untuk melakukan hal yang sama.

Semua mendapatkan apa yang mereka dapatkan karena mereka adalah warga sejawat yang berkewajiban atau berhak atas itu, bukan karena mereka mayoritas atau minoritas.

Kesempatan menerima hak dan menjalankan kewajiban terbuka untuk semua.

Pendek kata, dikotomi mayoritas dan minoritas sejatinya tidak ada dalam masyarakat yang menganut prinsip multikultural.

Masyarakat multikultural adalah masyarakat di mana eksistensi dikotomis “lawan” dan “kawan” tidak mengada. Yang ada dalam masyarakat multikultural adalah kegembiraan dan keriangan bersama.

Masyarakat seperti itu sejatinya menjadi mimpi yang diperjuangkan dalam komunitas IAIN Manado. (bersambung)

Email: sulaiman.mappiasse at iain-manado.ac.id

rusli-almunawwar

IAIN Manado dalam Konstalasi Ideologi Global

Penulis: Almunauwar Bin Rusli

Would the world be better without Islam? Satu pertanyaan kritis yang mengguncang pikiran kaum muslimin pasca tragedi 11 September 2001 di Amerika Serikat. Ledakan bom tersebut telah menggoreskan luka bahkan Islamophobia. Sejak hari itu, hubungan Barat dan Islam berubah, keduanya semakin terbelah.

Data menunjukkan, meski menolak terorisme, mayoritas penduduk negara muslim sepakat bahwa teroris yang menabrakkan pesawat ke World Trade Towers dan Pentagon sering mengutip penggalan ayat Qur’an sebagai motivasi sekaligus bentuk keimanan kepada Allah (Jack Nelson-Pallmayer, 2007:48-49). Memori 15 tahun silam ini ingin mengatakan, apalah arti keyakinan jika sudah kehilangan kebanggaan.

Lantas, bagaimana kita membuktikan bahwa dunia tanpa Islam adalah dunia tanpa kedamaian? Sekarang, minat orang Barat mempelajari Islam sangat besar. Bahkan mereka sudah berdiaspora hingga ke Sulawesi Utara. Sehingga, kinerja kampus Islam dalam merespons isu-isu kemanusiaan global harus maksimal.

Menurut pengamatan saya, kinerja ini dapat diaktualisasikan lewat tiga episode.

Pertama, orientasi akademik kampus Islam harus bercorak sosial-struktural, subjektif ke objektif, normatif ke teoritis, a-historis ke historis dan wahyu umum ke spesifik.

Kedua, kampus Islam menerapkan kebijakan orientasi tersebut ke masing-masing fakultas, supaya karakter keilmuan lembaga memiliki arah yang jelas, bermakna dan argumentatif.

Ketiga, kampus Islam perlu membuka peluang kepada kelompok lain untuk belajar pada institusinya termasuk warga negara asing. Implikasinya akan terjalin jaringan keilmuan yang kosmopolitan berlandaskan solidnya emosionalitas kebhinekaan.

Sebagai kampus Islam terbesar di Sulawesi Utara, IAIN Manado bisa saja memainkan peran melalui tiga episode di atas secara atraktif, kreatif dan konsisten.

IAIN Manado diharapkan menjadi laboratorium peradaban dengan memanfaatkan potensi SDM yang ada. Dosen dan mahasiswa bertugas memobilisasi massa, memahami pilihan rasional mereka serta merumuskan kembali bingkai Islam rahmatan lil alamin, lalu menciptakan, mengatur dan menyebarluaskan ide tersebut. Pendidikan adalah mesin untuk mencetak civil society.

Sampai di sini, kita semua dipersilahkan untuk memilih, diam atau berbuat.