iainmanado.official – Langkah nyata untuk memperjuangkan gelar Pahlawan Nasional bagi ulama sekaligus pejuang besar Kiai Modjo terus dimatangkan melalui sinergi lintas sektor. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IAIN Manado melaksanakan Rapat Koordinasi (Rakor) strategis yang mempertemukan para pakar akademisi dari berbagai kampus besar di Sulawesi Utara, unsur pemerintah, hingga perwakilan keturunan Kiai Modjo di Kampung Jawa Tondano (Jaton).
Rapat koordinasi yang berlangsung khidmat ini dipimpin langsung oleh Ketua LPPM IAIN Manado, Dr. Ardianto, M.Pd. Dalam arahannya, Dr. Ardianto menegaskan bahwa pengusulan Kiai Modjo sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar pengakuan historis, melainkan bentuk penghormatan nyata atas kontribusi besar beliau dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Bobot ilmiah rakor ini semakin kuat dengan hadirnya para pakar lintas kampus. Akademisi dan Budayawan senior dari Universitas Negeri Manado (UNIMA), Prof. Dr. Kamajaya Al Katuuk, M.S., memberikan pandangan mendalam mengenai asimilasi budaya dan pengaruh kultural perjuangan Kiai Modjo di tanah Minahasa. Sementara itu, akademisi sejarah dari Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT), Roger A. C. Kembuan, S.S., M.A., memaparkan analisisnya mengenai linimasa perjuangan serta posisi geopolitik militer Kiai Modjo dari masa Perang Jawa hingga masa pengasingannya. Melengkapi perspektif tersebut, arkeolog dan sejarawan dari IAIN Manado, Imam Mash’ud, M.A turut memaparkan bukti-bukti arkeologis serta catatan sejarah terkait eksistensi dakwah dan perlawanan sang ulama.
Dukungan penuh juga mengalir dari garis akar rumput dan otoritas lokal. Lurah Kampung Jawa Tondano, Hidayat Nurhamidin, menyatakan kesiapan penuh dari pihak pemerintah kelurahan beserta seluruh masyarakat Jaton untuk mengawal proses operasional dan pengumpulan data di lapangan. Kehadiran para tokoh masyarakat beserta perwakilan keturunan Kiai Modjo dalam rapat ini juga membawa angin segar, di mana pihak keluarga menyatakan siap mensinkronkan dokumen hidup serta sejarah tutur yang terjaga di Jaton untuk melengkapi naskah akademik yang tengah digarap oleh tim ahli.
Sebagai langkah taktis pemenuhan syarat formal, rapat ini secara khusus menjadwalkan pelaksanaan dua agenda besar, yakni seminar lokal dan seminar nasional. Seminar lokal akan digelar terlebih dahulu di tingkat daerah untuk menjaring legitimasi, menyerap aspirasi masyarakat Sulawesi Utara, serta mematangkan draf awal dokumen sejarah. Hasil dari seminar lokal tersebut kemudian akan dibawa dan diuji dalam skala yang lebih luas melalui Seminar Nasional. Penguatan melalui Seminar Nasional ini menjadi instrumen mutlak dan krusial guna mendapatkan rekomendasi ilmiah dari para pakar sejarah nasional sebelum berkas pendaftaran resmi diserahkan kepada Kementerian Sosial.


Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.